Bulan Biru Tanpa Orbit

Saat resonansi antar hati terjadi, depedensi akan timbul secara menyenangkan..

1 note

Mentari Menari: kisah mentari dan rembulan

mentarimenari:

kami mentari dan rembulan..

kami tinggal di langit yang sama dan menyinari bumi yang sama, namun kami jarang bertemu..

rembulan harus terjaga lebih dulu atau justru tidur terlambat hanya untuk menemuiku..

waktu kami tak banyak, hanya satu jam atau dua, dan tak bisa tiap hari bertatap muka…..

itulah sebabnya Mr. Felim berpindah tempat ke bulan biru yang tak punya orbit.. agar bisa dengan bebas bertemu matahari.. :)

46 notes

Kuntawiaji: Kisah Sang Penari

kuntawiaji:

Sebuah kisah untuk teman saya, Nayasari Aissa, yang tampaknya sedang begitu khawatir dengan perkataan dan pikiran orang lain terhadapnya.

Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari. Kepandaiannya menari sangat menonjol dibanding dengan rekan-rekannya sehingga dia seringkali menjadi juara di…

0 notes

Another side story of Re :)

“Mama, berangkat dulu ya, nak? Siang ini kamu jadi pergi?”

“Jadi, Ma. Mama hati-hati ya.”

Kalinda pun ditinggal sendiri di rumah. Dia menaiki tangga menuju kamarnya dengan sedikit melompat riang. Nafasnya menghasilkkan suara tawa rendah ditemani gumaman lagu senang dari mulutnya.

Siang ini Kalinda akan bertualang ke tempat yang dia belum pernah tahu sebelumnya. Atau bahkan dia sudah tahu. Entahlah. Kalinda tak pernah tahu kemana pengerannya akan membawanya.

Dia senang dia tak selalu tahu rencana kekasihnya. Dia selalu suka dengan kejutan yang selalu disiapkan untuknya. Senang ataupun sangat senang,dia selalu tertawa. Minimal tersenyum. Suatu keharusan yang hati Kalinda pinta untuk tetap ada.

Liburannya di rumah cuma seminggu. Liburan tengah semester setelah UTS ini memang pelit. Hanya seminggu. Itu pun dibekali tugas yang mengerogoti kinerja otak untuk bekerja lebih keras.

Tapi Hati selalu tahu. Hati tahu jika otak bisa ikut menari bersamanya jika dia memaksa otak meminum setiap serotonin dan oksitosin yang dia kucurka secara mesra di glia, Sang Pelindung Otak. Glia pun dengan ramah mempersilahkan hati masuk dan mengajak neuron menari. Menari dengan ceria saat pemilik setiap senyum Kalinda muncul di netranya. Dirga.

Dirga datang dengan penuh rencana untuk membuat senyum Kalinda tidak berhenti. Meminta semesta untuk membuka segala kemungkinan dan keberuntungan untuk Dirga jalani bersama Kalinda. Semesta hanya tersenyum. Membiarkan dua anak manusia ini menjalai langkahnya dahulu.

Kalinda turun dengan jeans andalannya, kaos hijau, ditambah cardigan warna hitam menemui Dirga yang sudah berdiri di pintu rumahnya.

“Udah siap?” Tanya Dirga.

“Yuk.” Kalinda menjawab riang sambil memakai flat shoes hitam.

“Kamu pake sepatu itu? Panas lho.” Ujar Dirga protes. Sepatu itu membuat tempurung kaki Kalinda terekspos dan mudah terbakar matahari.

“Emang kita mau kemana?” Tanya Kalinda bingung.

“Ada deh. Pake sandal Papa aja tuh.” Dirga menunjuk sandal Crocs putih milik papa Kalinda. Berbentuk sama dengan sandal Dirga. Hanya saja punya Dirga abal-abal.

Kalinda mengangguk mengiyakan. Mereka segera naik ke punggung Seiryu. Naga biru sahabat mereka berdua yang setia menemani kemanapun mereka pergi. Hanya sayang, di dunia manusia ini, Seiryu harus berganti rupa. Jika bepergian dengan wujud naga, makan akan sangat menyita perhatian. Maka ia mengambil wujud motor bebek hitam dengan tulisan Supra Fit di tubuhnya. Tulisan itu berarti, Naga Pemarah.

Dirga segera memacu Seiryu yang berbentuk motor itu. Kalinda mempererat pelukannya pada Dirga. Bukan taku akan kecepatan yang disajikan Seiryu. Hanya ingin memeluk Dirga saja. Karena libur yang hanya seminggu ini terlalu sayang untuk dihabiskan jauh-jauh dari Dirga.

“Kamu mau dibeli-beliin apa diajak jalan-jalan.”

“Diajak jalan-jalaaaaaannnn…” teriak Kalinda penuh semangat. Dia selalu lebih suka jika bepergian bersama Dirga daripada hanya dibelikan barang. Baginya waktu bersama Dirga jauh lebih berharga dari barang apapun di dunia.

Dirga pun mengajak Kalinda menembus kemacetan Jakrta dengan sihir Seiryu. Mereka menembus lampu merah tanpa polisi tahu. Mereka juga melewati atap-atap mobil untuk menghindari kemacetan. Seiryu memang hebat.

“Aduh.”

“Kenapa, Mas?” Tanya Kalinda panik.

“Aku lupa.”

“Lupa apa?”

“Dompetku ketinggalan.”

“Oooh. Aku kira apa. Ya udah nanti pake uangku dulu.”

“SIM sama STNK kan di dompet semua.”

“Lho. Emang kita mau kemana, Mas?”

“Aku pengen ngajak kamu ke Sea World.” Ujar Dirga membeberkan kejutannya dengan nada lesu.

“Hihi. Ya udah terserah Mas mau diterusin apa engga.”

Dirga melihat sekitar. Dia sudah berada di daerah Jatinegara. Lebih dari separuh perjalanan telah dia tempuh dari rumah Kalinda di daerah Tangerang Selatan.

Dengan mengumpulkan ketidakraguan sebanyak-banyaknya, Dirga pun tetap memacu Seiryu untuk terus menuju kawasan Ancol. Daerah dimana Sea World bertempat.

Siang itu sangat terik. Kalinda haus. Dirga pun memutuskan untuk ke minimarket modern yang menyajikan berbagai macam kebutuhan.

Dirga membeli minum. Namun kalinda justru menatap daging hot dog yang disajikan lekat-lekat. Dirga tersenyum. Hot dog di mini market itu adalah favorit mereka berdua. Mereka bebas menambas saus, mayonnaise, dan mustard sesuka hatinya. Belum lagi jika mereka makan berdua, pasti akan belepotan di mulut mereka karena mayonnaise yang mereka ambil dengan jumawa.

Baru saja mereka menghabiskan makanan mereka, terdengar suara orang-orang panik meminta tolong. Ditambah lagi satpam minimarket yang meminta para pengunjung memindahkan motornya.

Dirga pun mengajak Kalinda untuk bersiap pergi.

Ternyata tak jauh dari minimarket tersebut, terjadi kebakaran di sebuah rumah makan padang. Dirga khawatir dan ingin ikut membantu, tapi Seiryu menangkap maksud hatinya. Dia melarang Dirga untuk turun membantu. Katanya, tidak ada potensi korban disana. Tidak ada yang terjebak didalam. Mereka juga sedang dalam usaha keluar.

Dirga pun tak khawatir lagi. Dia tahu penglihatan Seiryu sangat tajam. Bahkan bisa menembus tembok dan besi. Dia percaya pada penglihatan naga itu.

Siang itu sangat menyenangkan bagi mereka berdua. Memasuki lorong akuarium berkali-kali, ambil posisi duduk di paling depan saat show ikan hiu, ikut tertawa terbahak-bahak saat seekor ikan pari mencium mesra seorang penyelam, sampai menyaksikan film dokumentasi tentang sejarah bangsa romawi di teater kecil Sea World. Kalinda tahu pilihannya tepat. Menghabiskan waktu dengan kekasihnya jauh lebih mahal daripada barang apapun. Dia senang.

Waktu terasa hanya sejenak jika kita menikmati suasana. Tapi akan jadi kenangan yang panjang jika kotak hati menyimpannya dengan penuh senyum pemberi rindu. Mereka pun pulang dengan tersenyum disertai dada yang berdebar-debar karena takut ditilang polisi.

Dirga mengantar Kalinda sampai di depan rumahnya lagi. Kalinda masih memegang tangannya. Dia tak rela berpisah dengan pangerannya walau hanya sejenak.

Dirga tersenyum. Mengusap pipi Kalinda dengan lembut dan mamsukkan jarinya ke hidung Kalinda. Ada upil yang menggantung, begitu katanya. Kalinda hanya tersenyum. Dirga adalah pria pertama dan terakhir yang suka mengorek upil ataupun mengupilinya. Tapi dia senang dan bersyukur memilikinya.

Dirga pun pamit. Kalinda menunggunya hilang dari pandangannya. Dia tahu jika diujung jalan pasti Dirga akan menengok untuk melihatnya sekali lagi. Benar. Dirga mengengok lagi. Bibirnya bergerak. Mengucapkan tiga kata yang mampu menyihir mereka untuk terendam dalam genangan rindu.

“I love you..”

“I love you too..”

1 note

side story of “Re”

Dirga memacu motornya menembus gelapnya malam. Dini hari tepatnya. Arlojinya menunjukkan pukul tiga pagi. Jalanan Jakarta sepagi itu sangat sepi.

Dirga setengah menggigil. Hawa dingin pagi hari ditambah angin yang di tabrak dalam kecepatan tingginya memaksa bulu kuduknya ikut berdiri meski dia memakai jaket kulit tebal.

Lampu merah Bulungan. Dia sendiri disana. Jalanan masih belum bangun. Tiba-tiba sebuah mobil Porsche berwarna ungu menjajarinya di garis lampu merah. Kacanya terbuka. Di dalamnya ada dua orang bule yang mengangguk-anggukan kepala tanda mereka menikmati lagu yang mereka mainkan.

Lagu yang terputar di mobil mereka bukan techno atau disco yang seharusnya membuat mereka mengangguk-anggukan kepala begitu kencangnya. Lebih terdengar seperti slow rock macam Creed atau Alterbridge dengan vokalis bersuara berat. Entah. Dirga tidak kenal lagu itu

Para bule itu seperti baru pulang pesta tapi mereka tidak terlihat mabuk. Atau setidaknya belum. Bule yang menyetir mobil berkepala botak, memakai kemeja hijau, lengkap dengan rompi bahan warna coklat muda. Disampingnya baju berwarna biru tua dengan topi fedora bulat kecil, mirip yang sering dipakai tompi. Mereka terlihat ramah.

Mereka melihat ke arah Dirga, tersenyum dan memberi isyarat agar Dirga juga menikmati lagu yang mereka setel. Dirga ikut tersenyum. Seketika salah satu bule itu menyodorkan tangannya. Mengajak Dirga berjabat tangan. Dirga mendekat menjabat tangannya.

“Nice song” kata Dirga setengah berteriak.

“Yeaahh!!!” sahut mereka.

Lampu sudah hijau mereka langsung belok kanan dengan kecepatan tinggi. Begitupun Dirga yang segera lurus ingin segera menuju Stasiun Pasar Senen.

Tidak lama Dirga sampai di Tendean. Dia naik ke flyover ke arah. Pancoran. Dia berniat belok kiri di Pancoran dan menuju Senen lewat Otista. Jauh memang, tapi dia bukan pengingat jalan yang baik. Jika lewat Thamrin, dia pasti kesasar. Dia memutuskan lewat Otista. Jalan yang dia tahu dan dia yakin tidak akan kesasar karena hanya lurus saja untuk mencapai Pasar Senen.

Ponselnya bergetar. Dirga tahu itu telpon dari siapa. Dia tidak mengangkatnya. Dia justru membawa motornya melaju lebih kencang melewati Matraman. Dia ingat The Upstairs. Dia ingat saat dia mengajak si penelpon ponselnya menonton band itu di IKJ. Dia pun seketika merasa bodoh. Dia lupa jika dia nonton di IKJ bukan dengan si penelpon, tapi dengan teman-temannya.

Si penelpon adalah gadis yang mampu membuat nafas Dirga tercekat. Membuat jantungnya berhenti sesaat saat mereka bertemu. Gadis yang mampu membuatnya yakin, Bumi terlihat lebih indah saat manusia jatuh cinta.

Motor Dirga sudah masuk melewati terminal Pasar Senen. Jalur yang membuatnya tak perlu memutar lebih jauh.

Dia segera parkir di pelataran masjid di depan stasiun. Pelataran itu dipakai menjadi lahan parkir 24jam. Dia segera berlari ke arah stasiun.

Gadis itu sudah disana. Di loket kereta jalur selatan bersama kakak perempuannya. Dirga tersenyum. Tak pernah senyum absen dari bibir Dirga saat dia bertemu Sang Gadis. Hatinya pun ikut.

Dirga segera membawanya pulang. Menembus hawa Jakarta yang mulai sedikit menghangat. Gadis itu memeluknya erat. Dirga melepaskan tangan kirinya dari kendali motor dan menggenggam tangan Sang Gadis.

Mereka tidak langsung pulang. Dirga mengajak Sang Gadis untuk sarapan dulu di dekat kosannya. Gadis itu mengiyakan. Dia rindu nasi uduk dekat kosan Dirga. Dirga juga. Juga rindu. Rindu nasi uduk berlauk Sang Gadis. Baginya gadis itu lauk terenak. Nasi aking pun akan terasa spaghetti. Begitu akunya.

Nasi uduk, telur warna item, bihun, tahu bacem, mendoan, dilengkapi sambel kacang. Sebungkus berdua. Cukup melipur rindu.

Mereka berniat makan di kamar kos Dirga. Dirga segera memacu motornya ke kos. Ingin  segera menikmati nasi uduk berdua dengan kekasihnya.

Pintu dibuka. Gadis itu kaget dan tersenyum. Menanyakan apakah sebuah benda di atas meja Dirga itu untuknya. Dirga mengangguk mengiyakan. Di atas meja belajarnya terdapat sebuah boneka monyet berwarna oranye berukuran sekitar 40 cm, terduduk dengan bungkus kado bening. Lucu.

“Trimakasih, sayang.”

“Kembali kasih. Suka?”

“Banget”

“Buat temen Oon.” Dirga  menyebut nama boneka monyet hitam kecil memegang pisang kesayangan Sang Gadis.

“Iya. Ini namanya siapa?”

“Kamu kasih nama dong.”

“Hmmm. Moren aja.

“Apa itu?”

“Monyet Oren.”

“Kurang keren. Aku aja yang kasih nama ya.”

“Boleh deh. Apa?

“Barbosa.”

Si Gadis mengiyakan. Nama yang aneh untuk sebuah boneka lucu. Mereka pun setuju menamainya Moren Barbosa. Panggilannya Bos.

Gadis itu memeluknya dengan erat. Wangi Bos seperti wangi kekasihnya. Dia suka. Dia juga senang kini punya teman untuk Oon.

Dirga membuka bungkusan nasi uduk. Dia tahu kekasihya juga sudah lapar. Dia membuka. Raut wajahnya berubah. Die terperanjat. Sang Gadis bingung. Dia melihat kebingungan dan kecewa yang mendalam di wajahnya.

Dirga menunduk lesu. Matanya berkaca-kaca. Sang Gadis menggenggam tangannya. Mencoba membuat Dirga tenang dan mulai menanyakannya pada Dirga. Dirga hanya menjawab lirih.

“Krupuknya lupa.”

0 notes

Aku selalu suka hujan. Bagaimanapun datangnya. Entah deras, entah rintik. Bukan karena hujan mampu menutupi air mata. Tapi karena hujan mampu menghapus air mata..

Aku ingat saat itu kita kehujanan. Entah darimana. Aku hanya ingat kita di motor. Jas hujan seadanya. Macet. Dan aku justru memainkan kakiku di genangan air yang hujan ciptakan. Aku senang hujan. Apalagi saat itu kamu ada meluk aku dari belakang.

Saat itu aku bersyukur kita kena macet. Aku jadi semakin lama merasakan eratnya peganganmu saat aku mainkan air di antara kaki dan motorku. Seakan kita berada di atas jet coaster yang meliuk-liuk di bentaran samudra. Aku seakan memaksamu tertawa dan suka basah. Ternyata aku salah. Kamu juga teman hujan.

Hari itu kamu juga senang. Jantungmu yang berdegup kencang sampai terasa di punggungku. Seakan mengetuk hatiku untuk ikut bermain bersama kesadaranmu. Hatiku tersenyum senang saat hatimu mengajak main. Dia tak perlu ganti baju yang terbaik. Karena bermain dengan hatimu, hanya butuh tawa untuk dinikmati bersama.

Deru klakson menyapa agar ku memacu motorku lagi meski aku tak mau. Hanya mengingatkan, bukan marah. Itu yang kusuka dari kota Jakarta saat itu. Waktu yang berjalan cepat disana membuat siapapun yang tinggal di kota itu sudah terlatih untuk memanjangkan ususnya dan menjadi lebih sabar. Mereka sabar saaat debu knalpot menemani mereka saat macet. Atau hujan yang memberi genangan dan bercak kotor pada kendaraan mereka. Mereka tidak mengutuk ibu kota. Mereka berusaha berteman dengan ibu kota.

Aku tak mungkin tetep bengal dan tidak menghiraukan sapaan klakson mereka untuk jalan. Aku menghormati mereka seperti mereka menghargai keinginanku untuk mengajakmu bermain hujan. Kuucapkan selama tinggal pada lampu lalu lintas yang masih muda karena ada hitungan detiknya. Dia tersenyum dan membalas sapaku. Aku ikut senyum.

Hujan masih deras. Perjalanan kita masih lebih dari separuh. Ku belokkan motorku ke depan gedung berwarna putih. Kamu bingung. Aku cuma senyum liat kamu bingung. Aku pesan satu porsi. Komplit, pake saos dikit, kecap, dan jeruk nipis dari penjual yang mulai renta. Semoga aku membuatnya senang dengan persinggahanku.

Seplastik somay hangat komplit lima ribu disajikan untuk kita berdua. Kamu senyum. Mungkin kamu pikir aku aneh. Tapi aku pikir aku romantis. Hujan masih deras dan kita makan somay berdua diabawahnya. Mencari teduh pun percuma. Tubuh basah kuyup. Yang penting senang perut agak kenyang.

Kita tak mungkin duduk. Genangan air akan membuat somay kita kotor saat ada pengendara lewat dan mencipratkan genangannya. Kita pun makan dengan berdiri di bawah pohon mahoni kecil yang baru ditanam untuk penghijauan. Serasa sedang di resepsi pernikahan. Atau sekalian membayangkan ini resepsi kita. Aku ga tahu. Yang aku tau aku seneng liat kamu senyum. Senyum mu itu yang bikin aku tau warna hidupku. Ya, kamu. Warna yang ada kamunya.

Ku ajak kamu semakin mendekat ke pohon mahoni. Aku tatap mata kamu. Kemidian kujejakkan kaki ke batang pohon di belakangku. Romantisme ala Rangga dan Cinta. Kita ketawa. Somay kita semakin penuh kuah hujan, tapi kita malah makin senang.

Kita pun jalan lagi. Kamu peluk aku lagi. Aku suka. Siang itu masih hujan. Aku juga suka.

Tak lama berselang gantian perutmu yang berontak. Dia mau bakpao yang dipamerkan gerobak di pinggir jalan. Tapi maaf, motorku waktu itu tak mau berhenti. Entah firasat atau aku sok tahu. Tapi kita tidak berhenti untuk bakpao. Hanya lapar mata mungkin, kamu tidak rewel waktu kita ga jadi makan bakpao.

Sekarang hujan, dan aku ingat somay kita. Aku hanya akan menghabiskan seluruh hidupku untuk terus berada di jalan yang sama denganmu. Dengan seluruh kemampuanku.

Aku sayang kamu, teman bermain hujanku..