“Mama, berangkat dulu ya, nak? Siang ini kamu jadi pergi?”
“Jadi, Ma. Mama hati-hati ya.”
Kalinda pun ditinggal sendiri di rumah. Dia menaiki tangga menuju kamarnya dengan sedikit melompat riang. Nafasnya menghasilkkan suara tawa rendah ditemani gumaman lagu senang dari mulutnya.
Siang ini Kalinda akan bertualang ke tempat yang dia belum pernah tahu sebelumnya. Atau bahkan dia sudah tahu. Entahlah. Kalinda tak pernah tahu kemana pengerannya akan membawanya.
Dia senang dia tak selalu tahu rencana kekasihnya. Dia selalu suka dengan kejutan yang selalu disiapkan untuknya. Senang ataupun sangat senang,dia selalu tertawa. Minimal tersenyum. Suatu keharusan yang hati Kalinda pinta untuk tetap ada.
Liburannya di rumah cuma seminggu. Liburan tengah semester setelah UTS ini memang pelit. Hanya seminggu. Itu pun dibekali tugas yang mengerogoti kinerja otak untuk bekerja lebih keras.
Tapi Hati selalu tahu. Hati tahu jika otak bisa ikut menari bersamanya jika dia memaksa otak meminum setiap serotonin dan oksitosin yang dia kucurka secara mesra di glia, Sang Pelindung Otak. Glia pun dengan ramah mempersilahkan hati masuk dan mengajak neuron menari. Menari dengan ceria saat pemilik setiap senyum Kalinda muncul di netranya. Dirga.
Dirga datang dengan penuh rencana untuk membuat senyum Kalinda tidak berhenti. Meminta semesta untuk membuka segala kemungkinan dan keberuntungan untuk Dirga jalani bersama Kalinda. Semesta hanya tersenyum. Membiarkan dua anak manusia ini menjalai langkahnya dahulu.
Kalinda turun dengan jeans andalannya, kaos hijau, ditambah cardigan warna hitam menemui Dirga yang sudah berdiri di pintu rumahnya.
“Udah siap?” Tanya Dirga.
“Yuk.” Kalinda menjawab riang sambil memakai flat shoes hitam.
“Kamu pake sepatu itu? Panas lho.” Ujar Dirga protes. Sepatu itu membuat tempurung kaki Kalinda terekspos dan mudah terbakar matahari.
“Emang kita mau kemana?” Tanya Kalinda bingung.
“Ada deh. Pake sandal Papa aja tuh.” Dirga menunjuk sandal Crocs putih milik papa Kalinda. Berbentuk sama dengan sandal Dirga. Hanya saja punya Dirga abal-abal.
Kalinda mengangguk mengiyakan. Mereka segera naik ke punggung Seiryu. Naga biru sahabat mereka berdua yang setia menemani kemanapun mereka pergi. Hanya sayang, di dunia manusia ini, Seiryu harus berganti rupa. Jika bepergian dengan wujud naga, makan akan sangat menyita perhatian. Maka ia mengambil wujud motor bebek hitam dengan tulisan Supra Fit di tubuhnya. Tulisan itu berarti, Naga Pemarah.
Dirga segera memacu Seiryu yang berbentuk motor itu. Kalinda mempererat pelukannya pada Dirga. Bukan taku akan kecepatan yang disajikan Seiryu. Hanya ingin memeluk Dirga saja. Karena libur yang hanya seminggu ini terlalu sayang untuk dihabiskan jauh-jauh dari Dirga.
“Kamu mau dibeli-beliin apa diajak jalan-jalan.”
“Diajak jalan-jalaaaaaannnn…” teriak Kalinda penuh semangat. Dia selalu lebih suka jika bepergian bersama Dirga daripada hanya dibelikan barang. Baginya waktu bersama Dirga jauh lebih berharga dari barang apapun di dunia.
Dirga pun mengajak Kalinda menembus kemacetan Jakrta dengan sihir Seiryu. Mereka menembus lampu merah tanpa polisi tahu. Mereka juga melewati atap-atap mobil untuk menghindari kemacetan. Seiryu memang hebat.
“Aduh.”
“Kenapa, Mas?” Tanya Kalinda panik.
“Aku lupa.”
“Lupa apa?”
“Dompetku ketinggalan.”
“Oooh. Aku kira apa. Ya udah nanti pake uangku dulu.”
“SIM sama STNK kan di dompet semua.”
“Lho. Emang kita mau kemana, Mas?”
“Aku pengen ngajak kamu ke Sea World.” Ujar Dirga membeberkan kejutannya dengan nada lesu.
“Hihi. Ya udah terserah Mas mau diterusin apa engga.”
Dirga melihat sekitar. Dia sudah berada di daerah Jatinegara. Lebih dari separuh perjalanan telah dia tempuh dari rumah Kalinda di daerah Tangerang Selatan.
Dengan mengumpulkan ketidakraguan sebanyak-banyaknya, Dirga pun tetap memacu Seiryu untuk terus menuju kawasan Ancol. Daerah dimana Sea World bertempat.
Siang itu sangat terik. Kalinda haus. Dirga pun memutuskan untuk ke minimarket modern yang menyajikan berbagai macam kebutuhan.
Dirga membeli minum. Namun kalinda justru menatap daging hot dog yang disajikan lekat-lekat. Dirga tersenyum. Hot dog di mini market itu adalah favorit mereka berdua. Mereka bebas menambas saus, mayonnaise, dan mustard sesuka hatinya. Belum lagi jika mereka makan berdua, pasti akan belepotan di mulut mereka karena mayonnaise yang mereka ambil dengan jumawa.
Baru saja mereka menghabiskan makanan mereka, terdengar suara orang-orang panik meminta tolong. Ditambah lagi satpam minimarket yang meminta para pengunjung memindahkan motornya.
Dirga pun mengajak Kalinda untuk bersiap pergi.
Ternyata tak jauh dari minimarket tersebut, terjadi kebakaran di sebuah rumah makan padang. Dirga khawatir dan ingin ikut membantu, tapi Seiryu menangkap maksud hatinya. Dia melarang Dirga untuk turun membantu. Katanya, tidak ada potensi korban disana. Tidak ada yang terjebak didalam. Mereka juga sedang dalam usaha keluar.
Dirga pun tak khawatir lagi. Dia tahu penglihatan Seiryu sangat tajam. Bahkan bisa menembus tembok dan besi. Dia percaya pada penglihatan naga itu.
Siang itu sangat menyenangkan bagi mereka berdua. Memasuki lorong akuarium berkali-kali, ambil posisi duduk di paling depan saat show ikan hiu, ikut tertawa terbahak-bahak saat seekor ikan pari mencium mesra seorang penyelam, sampai menyaksikan film dokumentasi tentang sejarah bangsa romawi di teater kecil Sea World. Kalinda tahu pilihannya tepat. Menghabiskan waktu dengan kekasihnya jauh lebih mahal daripada barang apapun. Dia senang.
Waktu terasa hanya sejenak jika kita menikmati suasana. Tapi akan jadi kenangan yang panjang jika kotak hati menyimpannya dengan penuh senyum pemberi rindu. Mereka pun pulang dengan tersenyum disertai dada yang berdebar-debar karena takut ditilang polisi.
Dirga mengantar Kalinda sampai di depan rumahnya lagi. Kalinda masih memegang tangannya. Dia tak rela berpisah dengan pangerannya walau hanya sejenak.
Dirga tersenyum. Mengusap pipi Kalinda dengan lembut dan mamsukkan jarinya ke hidung Kalinda. Ada upil yang menggantung, begitu katanya. Kalinda hanya tersenyum. Dirga adalah pria pertama dan terakhir yang suka mengorek upil ataupun mengupilinya. Tapi dia senang dan bersyukur memilikinya.
Dirga pun pamit. Kalinda menunggunya hilang dari pandangannya. Dia tahu jika diujung jalan pasti Dirga akan menengok untuk melihatnya sekali lagi. Benar. Dirga mengengok lagi. Bibirnya bergerak. Mengucapkan tiga kata yang mampu menyihir mereka untuk terendam dalam genangan rindu.
“I love you..”
“I love you too..”